Mengenal Teknologi Goal Line dalam sepak bola
Presiden FIFA masa itu, Michel Platini, mengatakan bahwa teknologi semacam itu "tidak perlu". Malahan, Platini mengusulkan menempatkan hakim gol tambahan di belakang gawang.
Ternyata, saat pergelaran kualifikasi Euro 2012 pada 2011, Ukraina takluk dari Inggris 0-1. Di balik kekalahan Ukraina, ternyata gol Marko Dević luput dari pengawasan hakim gol sebelum dipentalkan lagi oleh bek belakang John Terry. Akhirnya, diputuskan bahwa goal-line technology sangat diperlukan.
Pada 2012, akhirnya teknologi ini masuk tahap pengujian. Adidas bekerja sama dengan Cairos Technology menguji bola yang dipasang chip, dan kabel magnet di garis gawang. Jadi, saat bola melewati garis gawang, akan otomatis terdeteksi gol.
Selain itu, institut olahraga asal Jerman dan produsen olahraga asal Jerman, Fraunhofer dan Select Sport, juga mengikuti langkah Adidas dan Cairos dengan memasang medan magnet dan sensor di dalam bola. Teknologi ini dinamakan GoalRef.
Kedua teknologi tersebut hampir serupa. Saat bola menjebol gawang, jam yang dipakai wasit akan menunjukkan "GOL". Pada Juli 2012, International Football Association Board (IFAB) akhirnya mengubah Aturan Permainan (Laws of the Game/LOTG) yang mengizinkan teknologi goal-line.
Teknologi ini pun akhirnya digunakan pada Premier League untuk musim 2013-2014 dan Piala Dunia 2014. Namun, kompetisi besar sepak bola seperti UEFA Europa League, CONMEBOL Copa America, dan UEFA Champions League baru menerapkan teknologi tersebut pada 2016. Bahkan gim-gim sepak bola seperti PES dan FIFA pun juga ikut memasang teknologi garis gawang pada gameplaynya.

Komentar
Posting Komentar